ASMA PADA ANAK

DAPATKAH DISEMBUHKAN ?

Anak dengan asma sering mengalami kekambuhan dan menjadi alasan untuk diperiksakan ke dokter. Di Indonesia prevalensi asma belum diketahui secara pasti, namun hasil penelitian pada anak sekolah usia 13-14 tahun dengan menggunakan kuesioner ISAAC (Internationla Study on Asthma and Allergy in Children) tahun 1995 prevalensi asma masih 2,1%, sedangkan pada tahun 2003 meningkat menjadi 5,2%. Hasil survei asma pada anak sekolah di beberapa kota di Indonesia (Medan, Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Malang dan Denpasar) menunjukkan  prevalensi asma pada anak SD (6 sampai 12 tahun) berkisar antara 3,7%-6,4%, Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, angka kejadian asma pada anak usia 0 – 14 tahun adalah 9,2%. Di seluruh dunia, diperkirakan terdapat 300 juta orang menderita asma. Asma dapat terjadi pada usia berapa pun tetapi paling sering berawal pada anak usia dini.

Sebenarnya apakah asma itu ? asma adalah penyakit saluran napas yang bersifat kronik atau berlangsung lama. Pada penderita asma ada perubahan saluran napas yaitu peradangan yang menyebabkan penyempitan dan hiperreaktivitas saluran napas yang derajatnya bervariasi. Asma dapat terjadi karena penyebab yang bersifat multifaktorial baik genetik (faktor yang diturunkan) maupun non-genetik.

Gejala asma

Keluhan mengi atau batuk berulang merupakan keluhan yang paling sering pada anak penderita asma. Selain itu dapat ditemukan sesak, rasa dada tertekan, produksi dahak berlebihan. Karakteristik dari asma adalah 1) gejala timbul secara berulang , 2) gejala timbul bila ada faktor pencetus yang terdiri dari bahan iritan seperti asap rokok, asap bakaran sampah, asap obat nyamuk, suhu dingin, penyedap rasa, pengawet makanan, pewarna makanan; bahan alergen seperti debu, tungau rumah, bulu hewan, dan serbuk sari tanaman; infeksi saluran napas akut, serta aktivitas fisik berlebihan seperti berlari, berenang berlebihan.

 

 

 

Diagnosis asma

Diagnosis asma saat ini dengan menggunakan kriteria karena belum ada standar baku emas, kriterianya terdiri dari gejala seperti mengi, batuk, sesak, dan produksi dahak berlebihan. Gejala tersebut bisa hanya 1 akan tetapi lebih sering terdiri dari beberapa gejala, intensitasnya berflutuaksi, kadang berat kadang ringan, biasanya memberat pada malam hari, hingga mengganggu tidur dan gejala timbul bila ada faktor pencetus. Dari gejala tersebut dikonfirmasi dengan pemeriksaan fungsi paru.

Tatalaksana asma

Tatalaksana dikategorikan saat serangan dan di luar serangan. Serangan ada 3 derajat, serangan ringan-sedang, berat hingga ancaman henti napas. Bagaimana peran orang tua dalam tatalaksana asma ? Untuk serangan ringan-sedang bisa diberikan pertolongan pertama di rumah lalu jika tidak perbaikan segera dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan. Semua orang tua pasien anak dengan asma seharusnya diberi edukasi tentang bagaimana memantau gejala asma, jenis obat, cara pemberian serta dosis yang tepat, serta kapan anaknya dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan secara tertulis yang disebut “Rencana Aksi Asma”. Orang tua dapat memiliki kartu aksi asma yang berisi tentang faktor pencetus, pengendalian asma, rencana pengobatan harian, serta monitor fungsi paru (untuk anak leboh dari 6 tahun). Tatalaksana serangan asma di rumah penting agar pasien dapat segera mendapatkan pertolongan dan mencegah terjadinya serangan yang lebih berat. Namun demikian perlu ditekankan kepada orang tua seberapa jauh kewenangan mereka. Pada beberapa keadaan pasien harus segera dibawa ke pelayanan kesehatan tanpa menunggu respon terapi seperti serangan yang berat (ditandai dengan hanya mampu bicara dengan kata, duduk harus ditopang lengan, frekuensi napas sangat cepat hingga yang mengancam nyawa (penurunan kesadaran, suara napas tidak terdengar). Untuk tatalaksana di pelayanan kesehatan sesuai derajat serangan tadi. Untuk serangan berat harus dirawat inap dan mendapat oksigen serta obat hirup. Untuk ancaman henti napas dirawat di ruang intensif. Tatalaksana di luar serangan dengan memberikan obat pengontrol yaitu obat untuk mencegah serangan asma yang diberikan jangka panjang.

Pengendalian Pencetus Asma

Pengendalian faktor pencetus sangat penting karena mencegah kekambuhan. Faktor pencetus asma dan cara mengendalikannya terdiri dari : 1) tungau debu rumah,  dibersihkan dengan cara membersihkan lantai dari debu setiap hari, menggunakan seprei atau selimut yang pori-pori kecil, membersihkan perabot rumah tangga minimal 2 minggu sekali, membersihkan mainan anak-anak, menjemur kasur kapuk atau karpet, menyingkirkan koran atau mejalah bekas dari ruang bermain anak, menghindari boneka bulu atau karpet bulu; 2) menghindari asap rokok, 3) memberantas kecoa, 4) membersihkan jamur dari dalam rumah, menutup lubang dinding atau atap yang bocor dan retak, mengurangi kelembaban serta menjaga rumah tetap kering, 5) menjauhkan dari hewan peliharaan berbulu seperti anjing dan kucing, membersihkan tempat yang pernah ditempati hewan tersebut, 6) memberantas tikus, 7) menghindari asap obat nyamuk bakar, asap bakaran sampah, asap kendaraan, 8) menghindari alergen makanan seperti coklat, pewarna makanan, penyedap rasa, 9) mencegah influenza, 10) menghindari atau memodifikasi olahraga agar tidak berlebihan, 11) menurunkan berat badan bagi penderita yang kegemukan, serta 12) menghindari lingkungan yang terlalu dingin, stress emosional.

Dengan demikian, asma merupakan penyakit yang dapat muncul kapan saja jika ada pencetus dan yang terbaik dilakukan adalah mengendalikan asma agar penyakit ini tidak kambuh. Peran orang tua sangat penting dalam pengendalian asma, dan diperlukan kerja sama antara tenaga medis dan orang tua dalam pengendalian asma. Dengan program yang benar diharapkan angka kesakitan dan kematian akibat asma akan menurun serta meningkatkan kualitas hidup anak dengan asma. (Roro Rukmi WP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *